Tawas dan kaporit untuk air perbedaannya


Tawas dan kaporit untuk air

Penggunaan Tawas dan Kaporit untuk air, apa perbedaannya?

Dalam kehidupan sehari-hari masih ada yang keliru menggunakan kaporit. Jika air keruh diberi kaporit sebagai obat untuk menjernihkannya, maka setelah disaring lewat filter, airnya tetap keruh, tak berbeda dengan air sebelum diolah. Di depot air minum isi ulang sering ada tulisan UV sterilizer, pensteril air agar bebas bakteri. Di wadah air minum kemasan (amik), selain ada yang mencantumkan UV juga kerapkali tertulis ozon.

Jenis zat kimia

Zat kimia yang terlibat dalam pengolahan air bisa dibagi menjadi empat macam. Ada sebagai penjernih, sebagai pembasmi bakteri, sebagai penstabil air, dan sekadar zat tambahan. Ujudnya ada yang padat, ada yang cair, ada yang gas. Cara pembubuhan atau injeksinya pun bermacam-macam.

Berkaitan dengan zat kimia itu, ada kisah menarik. Sebuah kota, namanya San Paolo, ditimpa masalah. Air ledengnya yang diambil dari Danau Chavez tercemar berat. Ribuan orang lantas sakit dan ratusan tewas. Mereka tak mau lagi minum air ledeng itu. Buat kumur-kumur dan menyikat gigi saja takut. Terjadilah krisis air minum. Ribuan liter air bersih terpaksa dikirim dari kota-kota terdekat, mirip kasus tsunami di Aceh atau gempa di Nias. Orang-orang antri air minum kemasan (amik). Praktisi sanitasi bekerja keras menemukan sebabnya. Dan yang diduga menjadi sebabnya adalah PAC (polyaluminum chloride). Ternyata keliru. Lalu tawas yang telah digunakan selama 50 tahun disinyalir sebagai sebabnya. Lagi-lagi nihil hasilnya. Kasusnya terus muncul dan orang-orang yang tewas terus bertambah.

Akhirnya disimpulkan, wabah itu bukan karena PAC atau tawas tapi ada sesuatu yang lain. Apakah itu? Setelah lama diselidiki, ternyata cryptosporidium-C pelakunya. Mikroba dari grup protozoa ini mampu membentuk spora di usus halus manusia lalu menghalangi penyerapan air sehingga penderitanya menjadi haus terus. Mikroba ini pun tak mempan dibasmi dengan klor atau kaporit dan tahan dalam air mendidih lebih dari sepuluh menit. Luar biasa! Setelah berkali-kali dicoba barulah diketahui bahwa ozon mampu membasmi parasit itu. Direktur “PDAM” San Paolo lantas menggunakan ozon untuk membasminya. Aman lagilah air danau itu dan siap diolah untuk didistribusikan ke pelanggannya. Dan… begitulah kisah film Thirst (haus, dahaga).

Dalam film tersebut tercatat tiga zat kimia atau reagen yang terlibat, yaitu tawas, PAC, dan ozon.

1. Disinfeksi dan oksidasi.

Yang termasuk jenis ini adalah kaporit, klor, ozon, kuprisulfat, dan oksigen. Zat tersebut sering digunakan oleh PDAM. Yang terbanyak dipakai adalah kalsium hipoklorit atau kaporit, Ca(OCl)2. Keuntungannya, ada sisa klor. Sebaliknya ozon dan UV tidak ada sisanya di dalam air. Ini berbahaya kalau ada pipa bocor atau sambungannya tidak ketat (merembes). Air kotor berisi kuman bisa masuk lagi ke dalam pipa distribusi. Tercemar lagilah air olahan itu. Kualitasnya malah bisa jauh lebih buruk daripada air bakunya dan berbahaya bagi kesehatan ginjal dan hati (lever). Perlu dicatat, air yang bau kaporitnya seangin (trace, sangat sedikit), lebih aman daripada air yang tidak berbau kaporit. Tentu saja tidak boleh terlalu bau. Kisaran kadar kaporit sisa ini 0,2 – 0,3 mg/l.

2. Koagulasi-flokulasi.

Disebut di atas, tawas atau Al2(SO4)3.18H2O adalah koagulan terpopuler di PDAM. Selain itu ada juga besi sulfat dan besi klorida. Yang lainnya adalah polimer seperti PAC. Sebagai penjernih air yang dapat menggaet koloid dalam air lantaran muatan positifnya, tawas dan PAC banyak diterapkan untuk mengolah air sungai. Nyaris tak ada PDAM yang tidak menggunakan tawas jika air bakunya dari sungai. Tawas akan berikatan dengan kekeruhan (koloid) membentuk gumpalan atau flok. Flok kimia (kimflok) yang terbentuk lalu diendapkan di unit sedimentasi. Sedangkan kimflok ringan yang lolos-tidak mengendap-disaring di filter pasir silika. Adapun air tanah (misalnya mata air), lantaran sudah jernih, tak perlu lagi ditambah tawas. Hanya perlu kaporit sebagai disinfektan, pembasmi bakteri.

3. Penstabil air.

Zat kimia ini untuk mengatur taraf keasaman atau kebasaan air dan kadar mineralnya. Yang termasuk di dalamnya adalah asam, basa, dan garam-garaman. Beragam jenis soda dan kapur kerapkali digunakan. Pada penurunan kesadahan digunakan proses kapur-soda dan bermacam-macam variannya. Senyawa dari unsur magnesium dan klorida juga banyak terlibat. Berikut ini adalah contohnya: NaOH (natrium hidroksida/soda api), Ca(OH)2 (kalsium hidroksida/kapur tohor), Na2CO3 (natrium karbonat/soda abu), NaHCO3 (natrium bikarbonat/soda kue), NaCl (natrium klorida/garam dapur), HCl (asam klorida), H2SO4 (asam sulfat). Masih ada lagi zat lainnya.

4. Aditif

Kelompok terakhir ini untuk memperbaiki mutu air apabila ada zatnya yang kurang. Misalnya, kekurangan fluorida bisa ditambahkan natrium fluorida, NaF. Fungsinya untuk melindungi gigi dari karies. Namun demikian, PDAM jarang melakukan ini kalau tak bisa dikatakan tidak pernah.

Adapun penggunaan sinar ultraviolet (UV) harus hati-hati karena tidak semua spektrum panjang gelombangnya mampu membunuh bakteri. Saat ini para peneliti membagi radiasi UV menjadi beberapa kelompok dalam rentang 400-100 nm (nm: nanometer. 1m = 1 milyar nm). Ada juga yang mengatakan antara 400-4 nm. Rinciannya: UV-A: panjang gelombangnya 320-400 nm; UV-B: 280-320 nm; UV-C: 200-280 nm; dan UV ekstrim atau UV vakum: 100-200 nm. Sedangkan rentang panjang gelombang yang mampu membasmi bakteri ialah 280-200 nm. Ada juga pendapat lain, yaitu 260-265 nm.*

Sumber :

https://id-id.facebook.com/permalink.php?story_fbid=299484133422077&id=269306089773215