Psikologi ibu menyusui


Psikologi ibu menyusui

Kondisi psikologis ibu menyusui yang baru melahirkan biasanya berbeda-beda. Seorang ibu merasa lebih peka, sensitif dan mudah tersinggung. Hal tersebut dapat dikatakan wajar, apalagi setelah melewati masa kehamilan selama 9 bulan lebih dan rasa lelah yang luar biasa setelah proses kelahiran.

Saya sendiri juga merasakannya pada saat baru baru melahirkan Naima, anak pertama saya. Sayangnya, 6 tahun yang lalu, informasi mengenai menyusui sangat minim dibandingkan saat ini. Sehingga, Naima pun tidak mendapatkan IMD dan rawat gabung. Tiga hari pertama di RS pun dia diberikan susu formula. Puting saya yang kecil dan bisa dikatakan datar juga menjadi salah satu hambatan. Hanya dengan tekad yang kuat, saya tetap menyusui Naima.

6 tahun yang lalu, saya pun tidak tahu bahwa ASI bisa diperah. Seringkali saya mendapati payudara saya membengkak dengan tubuh yang meriang. Ketika Naima menangis, saya pun ikut menangis tanpa tahu apa yang harus saya lakukan. Seandainya dulu saya tahu bahwa ada yang namanya Konselor Menyusui, mungkin apa yang saya alami terasa lebih mudah. Akibatnya, saya pun sering menghindar dari tamu yang datang untuk berkunjung karena saya anggap hanya membuat saya bertambah cemas. Selain itu, hampir setiap sore, Naima menangis dan luar biasa sulit untuk meredakannya. Seandainya saya tahu bahwa itu adalah kolik, mungkin saya akan merasa lebih tenang.

Kesulitan ibu  menyusui dan bayi yang menangis terus sempat membuat saya sedih yang luar biasa dan tidak percaya diri. Namun, dengan adanya dukungan dari suami dan juga keluarga, Naima pun berhasil menyusui sampai usia 2 tahun. Dengan banyaknya informasi dan kemudahan mengakses internet seperti saat ini, hal yang pernah saya alami tersebut, diharapkan tidak akan dialami oleh ibu-ibu menyusui yang baru lainnya. Berikut akan saya bahas mengenai psikologi ibu menyusui. Tulisan ini saya buat berdasarkan presentasi yang disampaikan Ibu Darmayati Oetoyo Lubis, M.Psi pada Rakernas di Bandung, 20 April 2013 yang lalu.

Psychology of breast feeding

Bayangkan seorang bayi yang tadinya berada di dalam kandungan ibu yang gelap hangat nyaman aman selama 9 bulan, dilahirkan keluar kedunia yang dingin, terang benderang, hiruk pikuk dengan berbagai bunyi…ia membutuhkan rasa aman dari ibu yang merengkuhnya didalam pelukan , merasakan kenyamanan dari asi yang mengalir dari payudara yang lembut dan hangat. Menyusui adalah salah satu bentuk hubungan yang paling alami dan cantik, yang hanya dialami oleh seorang ibu, tidak dialami oleh ayah. Mengalirnya asi, energi dari ibu, keadaan dimana seorang manusia, si ibu, memberikan keseluruhan diri fisiknya, perasaan kasih sayangnya, supaya bayinya dapat survive, tumbuh sehat.

Dampak Psikologis Menyusui

Psikologi ibu menyusui

Menyusui bukan hanya berguna buat bayi tapi juga sangat berguna buat si ibu. Kontak fisik antara ibu dan bayi memang penting namun terlebih lagi faktor psikologisnya. Menyusui membentuk ikatan yang kuat diantara ibu dan bayinya. Para ibu yang menyusui merasakan adanya perasaan hangat dan saling memberi respons, istilahnya in synch. Selain itu, menyusui dapat menimbulkan rasa bangga, rasa dibutuhkan dan meningkatkan percaya diri ibu.

Rasa cinta kasih anak dan rasa aman adalah kebutuhan vital anak, mereka membutuhkan afeksi dari orangtua. Ibu adalah orangtua pertama yang membangun trust pada anak melalui pemberian ASI. Perasaan aman dan trust adalah fondasi dalam perkembangan kepribadian anak. Menyusui adalah hal pertama dan penting dalam menumbuhkan attachment (kelekatan) yang dianggap penting untuk pertumbuhan psikologis bayi. Dari penelitian mengenai breast feeding ditemukan bahwa attachment seorang anak pada ibu melalui breast feeding menumbuhkan anak2 yang berkepribadian baik dalam keluarga dengan orangtua yang lebih sensitif pada kebutuhan anak dan sebaliknya. Ibu diharapkan menyusui bayinya sambil mengelus, menyanyi/bersenandung,menatap mata anak, mengalirkan perasaan menyenangkan kepada bayinya dan perasaan menyenangkan bagi ibu.

Baby Blues

Hari-hari pertama melahirkan biasanya ibu dipenuhi perasaan bahagia karena berakhirnya penantian yang melelahkan fisik dan psikologis selama 9 bulan. Biasanya ibu pun merasakan perasaan yang “ajaib” yaitu rasa bahagia yang luar biasa, setelah bayi meluncur dari tubuhnya. Sehingga rasa lelah dan sakit yang dirasakan dalam proses melahirkan seakan-akan hilang dalam sekejap. Akan tetapi, setelah rasa bahagia yang luar biasa itu, hampir 70% ibu yang baru melahirkan mengalami periode rasa sedih, penuh tangis, cepat tersinggung, bingung, khawatir, dan juga rasa tak percaya dapat mengurus bayinya. Hal tersebut bisa dikatakan ibu mengalami baby blues atau postpartum blues.

Bagi orang lain, terkadang baby blues dianggap hal yang biasa, karena :

  • disebabkan oleh faktor-faktor hormonal yang luar biasa yang terjadi disaat melahirkan dan saat sesudahnya
  • Perasaan lelah yang hebat setelah melahirkan
  • Muncul di hari-hari pertama melahirkan dan berakhir paling lama dalam 10 hari
  • Tidak parah dan tidak mengganggu fungsi pribadi ibu.

Ciri-ciri Baby Blues :

    • Merasa sedih, menangis tanpa sebab yang jelas
    • Cepat tersinggung atau marah kepada orang-orang terdekat
    • Merasa panik, khawatir atau cemas
    • Merasa tak dapat mengontrol perasaan
    • Merasa banyak hal berkecamuk dalam fikiran
    • Merasa kuatir tidak dapat menjadi ibu yang baik
    • Merasa sendirian dengan bayinya

Sebaiknya, seorang ibu harus waspada jika ciri-ciri baby blues dialami lebih intens lebih lama (dalam 4 minggu setelah melahirkan sampai beberapa bulan) sehingga mengganggu fungsi pribadi, disertai dengan gangguan fisik (seperti serangan panik, sesak nafas, sakit dada, gangguan pencernaan, gangguan tidur , adanya perasaan negatif kepada bayi, perasaan takut akan menyakiti diri atau bayi, tak berminat kepada bayi, kehilangan kesenangan, merasa bersalah, tak berguna, hingga tidak mau mengurusi diri). Hal tersebut bisa berkembang menjadi depresi dan segeralah mencari pertolongan.

Depresi Pasca melahirkan

Depresi Pasca melahirkan disebabkan oleh interaksi diantara faktor hormonal dan faktor psikologis yang menyangkut perubahan besar dalam hidup seorang perempuan (menjadi seorang ibu) dan rasa khawatir apakah ‘saya’ dapat menjadi ibu yang baik. Selain itu, adanya permasalahan dalam perkawinan atau bayi yang sakit juga bisa menjadi faktor penyebab depresi paska melahirkan.

Untuk mencegah, bagaimana seorang ibu baru dapat membantu diri sendiri untuk mengatasi mood yang kurang nyaman paska melahirkan?

      • Pertama: tak perlu jadi supermom, izinkan diri untuk merasa kewalahan sesaat, tapi berusaha bangkit kembali
      • Tidur yang cukup
      • Punya waktu untuk diri sendiri tapi bukan menyendiri
      • Cukup makan makanan yang sehat
      • Keluar rumah sebentar
      • Senam-senam sederhana
      • Cari dukungan psikologis dari orang-orang yang terdekat
      • Berusaha untuk tetap melakukan kegiatan yang disenangi
      • Bila perlu tulis diary tentang bilamana merasa mood turun, berapa lama dirasakan, apa penyebabnya, apa yang dapat meningkatkan kembali mood baik…untuk belajar mengatasi baby blues

Akhir kata, menyusui dan tidur berdekatan dengan ibu di awal hidup bayi telah dipakai sepanjang sejarah manusia sebagai cara paling efektif untuk membesarkan anak dan memberi makna hidup bagi ibu-ibu manusia di dunia.

Sumber : Artikel Psikologi ibu menyusui oleh Irma A Bakhtiary

 

Leave a Reply